Usaha ternak itik dan bebek alias entog di Padaherang makin menggiurkan, sehingga usaha ini banyak dilirik oleh warga di daerah tersebut. Foto: Madlani/HR
Padaherang,(harapanrakyat.com),-
Sejumlah warga masyarakat Padaherang mulai melirik usaha ternak itik dan bebek alias entog. Peningkatan produksi bebek dan entog diyakini bisa mendongkrak potensi wisata kuliner di Kabupaten Pangandaran. Dengan peluang usaha berbasis kawasan, potensi di bidang ternak itik dan bebek pun bisa menjadi solusi untuk meningkatkan pendapatan masyarakat Kab. Pangandaran pada umumnya, dan khususnya di Kecamatan Padaherang.
Salah seorang warga Dusun Patinggen I RT 13/03 Ds Karangpawitan, Sutrisno Wahyu Widodo (50), yang baru-baru ini telah memutuskan untuk berprofesi sebagai peternak bebek dan entog mengatakan, segmen pasar untuk daging itik dan bebek saat ini sangat luas, mengingat masakan khas berbahan baku kedua daging tersebut saat ini sangat diminati masyarakat.
“Selain untuk memenuhi kebutuhan pasar, saya pun ingin menciptakan lapangan kerja baru bagi masyarakat sekitar,” katanya saat ditemui HR di lokasi peternakannya, Senin (22/7).
Sutrisno menambahkan, Padaherang memiliki rawa dan sungai yang notabene sangat cocok dijadikan habitat itik dan bebek. Potensi kawasan peternakan ini belum tergali secara optimal hingga dia yakin, usaha ternak itik dan bebek akan sangat menunjang terhadap peningkatan ekonomi masyarakat.
Tingginya permintaan pasar tersebut, kata Sutrisno, karena masyarakat sudah banyak yang tahu bahwa daging itik dan bebek mengandung protein yang tinggi serta mempunyai karekteristik rendah kolesterol, sangat baik dikonsumsi orang yang mengidap penyakit jantung
“Paling tidak, para pelaku usaha makanan berbahan baku daging itik dan bebek di wilayah Kabupaten Pangandaran dan sekitarnya tidak membeli daging ke luar daerah, cukup di sini saja. Sangat disayangkan kalau mengambil dari luar, perputaran uangnya tidak di daerah kita,” ungkapnya.
Sutrisno memaparkan, usaha ternak itik dan bebek bisa dijadikan sebagai sumber penghasilan harian dan bulanan. Untuk harian, bisa diperoleh dengan cara menjual telurnya. Untuk penghasilan bulanan, peternak memperoleh penghasilan yang lebih besar dari penjualan daging. Mesin tetas yang digunakan pun sangat sederhana, yakni terbuat dari bahan kardus.
Untuk menetaskan telur dengan mesin sederhana tersebut, kata Sutrisno, waktu yang dibutuhkan relatif lebiuh singkat, untuk telur itik bisa menetas selama 28 hari, telur bebek 35 hari, angsa 60 hari, ayam 21 hari, dan puyuh menetas selama14 hari.
Sutrisno berkisah, awalnya dia hanya memiliki 20 ekor indukan itik dan bebek. Setelah berjalan 4 bulan, kini itik dan bebek miliknya telah berkembang hingga berjumlah 600 ekor lebih. Modal pakan yang dia keluarkan tergolong kecil karena bahan makanan yang dibutuhkan banyak tersedia di sekitar rawa dan sungai di Padaherang, misalnya dedek, bonggol pisang, eceng gondok ganggang rawa, daun-daunan hijau, keong, tenggek, dan ikan keting.
“Di daerah rawa pun banyak pohon kiray yang jika diolah acinya sangat disukai itik dan bebek,” katanya.
Jika dikalkulasikan, modal awal untuk beternak itik dan bebek sangat murah dan terjangkau oleh kalangan bawah. Pembelian bibit itik dan bebek siap telur adalah kisaran harga Rp. 50 ribu per ekor. Jika pemeliharaannya baik dan nutrisi pakan yang cukup, selama 4 hingga 8 bulan itik dan bebek bisa bertelur rata-rata 25 ekor per bulan. Setelah 8 bulan, jika bibit tersebut dijual, maka harga basur (itik dan bebek dewasa) bisa mencapai kisaran harga Rp. 120 ribu hingga Rp. 150 ribu.
“Penghasilan peternak terbukti ganda, dari penjualan telur dan basur. Apalagi jika telur-telur yang dihasilkan tidak dijual. Dalam kurun waktu 4 bulan bisa menghasilkan 600-800 ekor dari pengeraman mesin manual tetas telur. Usaha ini sangat menjanjikan dengan modal yang murah serta pengelolaan yang gampang bisa dilakukan oleh semua orang”, katanya.
Itik, bebek dan angsa merupakan hewan ternak yang berspesies sama, sehingga perawatan serta pengembangbiakannya sangat mirip hingga tidak akan merepotkan peternak. Dengan potensi alam yang sangat untuk dijadikan sentra produksi telur dan daging itik dan bebek, Sutrisno berharap, Pemkab Pangandaran melalui pemerintah terkait memberikan bantuan kepada peternak itik dan bebek. Terlebih, kecamatan Padaherang sebagai pintu gerbang Kab. Pangandaran sangat membutuhkan perhatian lebih terutama dalam upaya peningkatan daya beli masyarakat. (Mad/Koran-HR)