Eva Latifah
Salon-salon kecantikan terlihat menjamur di Kota Banjar, merasuk hingga pojok tersempit dan berada di lingkungan yang kumuh. Kehadirannya berkaitan dengan gaya hidup masyarakat urban, lalu menjadi celah ekonomi bagi sektor informal.
Sesuai nama pemiliknya, Salon Iis yang lokasinya berada di kawasan Pasar Banjar, tepatnya di bantaran Sungai Citanduy, Jl. Pataruman, Kota Banjar. Salon di tengah hiruk-pikuknya aktifitas pasar itu memiliki luas sekitar 2 meter x 4 meter.
Di dalamnya terdapat tiga set meja rias, satu bangku tempat pelanggannya menunggu giliran, satu meja kerja yang digunakan untuk tempat pembayaran, dua buah misteamer zadul (zaman dulu) yaitu alat kecantikan untuk memperindah dan mempercantik tampilan rambut, dan beberapa rak peralatan menata rambut.
Ada juga kipas angin sebagai âobatâ penghilang gerah. Sedangkan di sudut terpisah terdapat pula tempat mencuci rambut. Air mengucur dari keran yang ujungnya dipasangi selang.
Namun, jangan tertipu dengan penampilannya, sebab Salon Iis telah memiliki banyak pelanggan, baik pria maupun wanita. Maklum saja, salon tersebut sudah beroperasi sejak tahun 1993. Pelanggannya berasal dari kalangan menengah ke bawah, mulai dari para pedagang pasar sampai masyarakat dari berbagai wilayah di Kota Banjar.
Saat ditemui HR, Minggu (19/5), Iis menuturkan, bahwa setiap hari ada saja pelanggan yang datang untuk memotong rambut, mengeriting, atau sekedar creambath. Pada saat musim perpisahan sekolah, biasanya dia kelimpungan melayani permintaan rias wajah.
Seluruh layanan perawatan rambut dan wajah dilayaninya, mulai dari gunting rambut, creambath, facial, rebonding,sambung rambut, dan rias pengantin. Mengenai tarif, semuanya sesuai standar yang diberlakukan di seluruh salon di Kota Banjar. misalnya untuk potong rambut tarifnya Rp.15 ribu, dan Rp.35 ribu untuk creambath.
Tapi kalau ada pelanggan kurang mampu, Iis biasanya ngasih keringanan. Jadi dia tidak mematok tariff sesuai ketentuan. âKarena saya kasihan ya kepada pelanggan dari kalangan bawah. Yang penting tiap harinya ada pelanggan datang, hasilnya ya lumayan buat kebutuhan sehari-hari. Kalau pun lagi sepi saya harus bersabar, namanya juga usaha, segini juga sudah Alhamdulillah,â ujar Iis, ibu dari dua orang anak, paling besar sudah duduk di bangku kuliah, sedangkan anaknya nomor dua masih di bangku SMP.
Sejak suaminya meninggal setahun lalu, Iis menjadi penopang kebutuhan hidup bagi kedua anaknya. Di tengah menjamurnya usaha salon kecantikan saat ini, Iis berharap, kedepan usaha yang telah dijalaninya selama 20 tahun itu tidak hanya bertahan saja, namun mampu berkembang dan lebih maju lagi.
Diperkirakan, kini puluhan salon kecantikan tersebar di wilayah Kota Banjar, mulai dari kelas potong rambut di tempat yang representatif, hingga gunting rambut bertarif Rp.7.000 di sudut gang.
Salon-salon kecil berkembang karena adanya tuntutan gaya hidup yang mengharuskan menjaga penampilan. Adanya pergeseran gaya hidup, sehingga orang tidak lagi memikirkan pemenuhan kebutuhan primer, tetapi juga kebutuhan tersier, seperti salon, yang juga dianggap penting oleh masyarakat. ***