Koran Mingguan Harapan Rakyat (HR), mencoba mengkolaborasikan berbagai pikiran untuk mencari solusi agar UPTD Balai Benih Ikan (BBI) Kubangsari Kota Banjar Jawa Barat bisa bangkit dan maju agar bisa membantu menggerakan roda ekonomi masyarakat. Tim HR mencoba mengkonfirmasi Sekretaris Dinas Pertanian drh. Aswin Nur, Kepala UPTD BBI Kubangsari Risa Rosina, S.ST.Pi., dan tim HR melakukan investigasi.
***
Balai Benih Ikan (BBI) adalah sarana pemerintah untuk menghasilkan benih ikan dan untuk membina usaha pembenihan rakyat. Di Kota Banjar secara struktur Balai Benih Ikan berada di bawah Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan dan bertanggung jawab pada Kepala Dinas. Secara fungsional bekerjasama dengan lembaga perikanan di atasnya, dan lembaga penelitian, dengan struktur dan fungsi tersebut pada dasarnya BBI memiliki peluang untuk menjadi acuan teknis budidaya ikan bagi masyarakat sekaligus juga dapat menjadi barometer perkembangan budidaya perikanan di masyarakat. Optimalisasi kinerja BBI merupakan salah satu cara untuk meningkatkan produksi benih ikan yang berkualitas dan kuantitas yang tinggi guna memenuhi kebutuhan masyarakat pertanian dan meningkatkan pendapatan asli daerah. Optimalisasi tersebut meliputi, penentuan komoditas yang akan dikembangkan, sarana dan prasarana, sumberdaya manusia sebagai tenaga kerja operasional dan penghargaan.
Penentuan komoditas yang akan dikembangkan dan dihasilkan harus ditentukan dengan pasti, di BBI Kubangsari komoditas yang dikembangkan dan dihasilkan adalah ikan patin, ikan gurame, dan ikan bodasan (tawes, nila), semua itu merupakan ikan yang mempunyai nilai jual tinggi dan telah lama dibudidayakan oleh masyarakat pertanian baik di Kota Banjar maupun di luar Kota Banjar, sehingga keberadaan benih ikan tersebut mutlak harus selalu tersedia di BBI kapan pun petani membutuhkan harus selalu tersedia.
Begitupun sarana dan prasarana BBI mutlak harus disesuaikan dengan kebutuhan produksi ikan konsumsi yang akan dikembangkan. Sarana dan prasarana di BBI Kubangsari sudah lebih dari cukup dan memadai seperti bangunan hatchery 4 unit, kolam induk 4 buah, kolam pendederan 20 buah. Sementara itu untuk mendukung keberhasilan produksi benih diperlukan juga alat pendukung berupa laboratorium kualitas air dan kesehatan ikan.
Yang paling menentukan dalam pelaksanaan optimalisasi kinerja BBI Kubangsari adalah kurangnya sumberdaya manusia sebagai tenaga operasional BBI. Hal ini merupakan masalah serius yang harus mendapat perhatian dari Pemerintah Kota Banjar, hingga saat ini jumlah pegawai di BBI Kubangsari hanya 5 orang, yang terdiri dari PNS 4 orang dan sukwan 1 orang. Para pegawai tersebut masih sangat perlu pembekalan teknologi praktis, keterampilan dan semangat baru untuk mengembangkan BBI, kemampuan memahami teknologi budidaya sesuai dengan kemajuan yang ada sehingga dapat mengadopsi untuk dapat menumbuhkembangkan kinerja BBI.
Penghargaan dalam rangka meningkatkan kinerja BBI perlu juga mendapat perhatian dari Pemerintah Kota Banjar, para pegawai yang memiliki kinerja bagus dan dapat menghasilkan benih yang berkualitas mestinya diberi penghargaan, diharapkan dengan penghargaan ini dapat memacu untuk meningkatkan kinerja dalam menghasilkan benih yang berkualitas sehingga kebutuhan para pembudidaya ikan akan benih berkualitas dapat terpenuhi khususnya masyarakaat Kota Banjar.
Strategi yang harus dilaksanakan dalam upaya optimalisasai kinerja BBI Kubangsari adalah 1) Pemerintah Kota Banjar diharapkan mengadakan rekruitmen pegawai baru yang memahami dan menguasai bidang teknis pembenihan ikan dengan menerapkan cara pembenihan ikan yang baik (CPIB), saat ini BBI Kubangsari memerlukan pegawai teknis setingkat lulusan SLTA/SMK perikanan yang mumpuni di bidang pembenihan ikan sesuai dengan CPIB sebanyak 17 orang, diantaranya untuk tenaga manajemen 1 orang, tenaga administrasi 1 orang, untuk mengelola pembenihan ikan patin sebanyak 9 orang, untuk mengelola pembenihan ikan gurame 2 orang, untuk mengelola ikan tawes dan nila sebanyak 4 orang. 2) Menjalin kerjasama dan kemitraan dengan petani/kelompok tani ikan atau dengan Unit Pembenihan Rakyat (UPR) sesuai dengan komoditas yang dikembangkan. 3) Proses produksi diharapkan sudah menerapkan CPIB untuk menghasilkan benih yang bermutu. 4). Memaksimalkan ketersediaan stok benih ikan sesuai dengan kebutuhan yang telah direncanakan. 5) Diharapkan ada program magang bagi lulusan SMK perikanan, sehingga mereka bisa memahami teknis pembenihan ikan, berdedikasi tinggi dan menguasai seluruh permasalahan pembenihan ikan. 6) Unit Pembenihan Rakyat (UPR) yang ada di Kota Banjar diharapkan ikut meramaikan bursa ketersediaan benih ikan di lokasi BBI. 7) memaksimalkan jaringan pemasaran untuk meningkatkan layanan pemasaran benih ikan dalam rangka memenuhi permintaan akan benih ikan dan peningkatan Pendapatan Asli Daerah.
Kalau saja strategi tersebut dilaksanakan maka di atas kertas BBI Kubangsari akan mampu memproduksi benih ikan patin sebanyak 3.600.000 ekor/tahun, produksi benih ikan gurame sebanyak 200.000 ekor/tahun, produksi ikan tawes dan nila sebanyak 25 ton/tahun, hal tersebut tentunya akan mampu memberikan Pendapatan Asli Derah yang maksimal. Semoga menjadi kenyataan. (Tim HR)