Ciamis, (harapanrakyat.com),- Menyusul ambruknya rangka atap bajaringan yang dipasang di dua ruang kelas di SDN 1 Bojongmenger Kecamatan Cijengjing, Kabupaten Ciamis, pekan lalu, kini menjadi kekhawatiran sejumlah pihak. Pasalnya, bangunan sekolah di Kabupaten Ciamis yang baru-baru ini dibangun, hampir mayoritas menggunakan rangka baja tersebut. Mereka khawatir kejadian serupa akan terulang kembali di Kabupaten Ciamis.
Aktifis Muda NU Kabupaten Ciamis, Maulana Sidiq, mengatakan, ambruknya rangka atap bajaringan merupakan kesalahan konsultan, yang selama ini memaksakan mengunakan bajariangan. Padahal jika mengunakan kayu, mungkin hal itu tidak terjadi. âAhli kayu lebih banyak dari pada ahli bajaringan. Bahkan dalam aturan sudah jelas, jika tidak memungkinkan menggunakan bajaringan, alangkah baiknya menggunakan kayu,âungkapnya, kepada HR, di Ciamis, Selasa (3/4).
Sidik juga mengatakan, dengan adanya kejadian tersebut harus dijadikan pelajaran bagi penyelenggara pendidikan di Kabupaten Ciamis serta bagi para kontraktor dan juga konsultan, supaya mereka mengetahui pekerjaan mana yang lebih bagus.
Bahkan menurut Sidiq, meski kejadian ambruknya atap sekolah SDN 1 Bojongmenger tidak memakan korban jiwa, alangkah baiknya pihak rekanan juga memikirkan kondisi psikologis siswa. âMereka itu anak-anak yang gampang ketakutan. Dan itu yang perlu dipikirkan,â tegasnya.
Meski pihak pemborong dan juga penjual bajaringan siap bertanggung jawab, sambung Sidik, akan tetapi jika tidak memperhatikan tata cara pemasangan bajringan, tentunya kejadian tersebut akan terulang kembali.
âKita juga meminta Dinas Pendidikan dan Dinas Ciptakraya bisa kembali melakukan pemeriksaan terhadap sekolah yang menggunakan rangka atap bajaringan, baik untuk tahun 2011 maupun 2012. Karena tidak menutup kemungkinan kejadian tersebut bisa terjadi di sekolah lainnya,â katanya.
Dihubungi terpisah, Ketua Komisi IV DPRD Kab Ciamis, Hendra S. Marcusi, ketika ditemui HR, Selasa (5/3), mengatakan, kejadian ini harus dikaji kembali, apakah kesalahan tersebut diakibatkan kelalaian rekanan atau bahan bajaringan yang kualitasnya jelek.
âDampak dari kejadian ini jelas menimbulkan kekhawatiran di seluruh sekolah yang mengunakan bajaringan, sehingga dinas pendidikan harus bisa menjadikan bahan kajian bersama. Mungkin bisa saja solusinya dikembalikan lagi mengunakan kayu, kalau solusi itu yang terbaik,âkatanya
Hendra melanjutkan, kejadian ini jangan sampai menyalahkan siapapun, namun harus dijadikan acuan supaya pihak konsultan tidak sembarangan dalam menunjuk rekanan, sehingga kejadian robohnya atap sekolah tidak terjadi lagi.
Senada dengan itu, Kepala Dinas Pendidikan Ciamis, H. Tatang, S.Ag, M.Ag, mengatakan, kejadian ini jangan sampai dibesar-besarkan, karena semua pihak yang terlibat dalam pelaksanaan pembangunan ruang kelas tersebut, sudah melakukan kesepakan bersama untuk bertangggung jawab melakukan penggantian.
âKami pihak disdik sendiri akan melakukan koordinasi dengan pihak Dinas Cipta Karya untuk melakukan pengawsan dalam penggantian kembali baja yang rusak di SDN 1 Bojongmenger. Dan juga akan mengajak seluruh komponen untuk melakukan pengawasan ,bahkan pemeriksaan kembali di sekolah lain supaya kejadian ini tidak terulang,âpungkasnya
Sebelumnya, seperti diberitakan di HR Online/www.harapanrakyat.com, akibat tidak kuat menahan beban atap, dua bangunan ruang kelas di SD Negeri 1 Bojongmengger Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis, ambruk, Sabtu (2/3). Dugaan sementara, penyebab ambruknya ruang kelas yang dibangun pada tahun 2011 ini, akibat dari adanya kesalahan pada kontruksi atap bajaringan, sehingga kontruksi atap menjadi rapuh dan tidak mampu menahan beban.
Berdasarkan informasi yang dihimpun HR, pada saat bangunan tersebut ambruk, tidak terjadi hujan atau pun angin kencang. Ambruknya bangunan kelas yang dibangun oleh rekanan CV. Riziki Utama itu, terjadi secara tiba- tiba dan sebelumnya tidak terdapat tanda-tanda bangunan tersebut akan ambruk. (es)