Senin (28/1/2013), Koran Mingguan Umum Harapan Rakyat (HR) melayangkan surat untuk wawancara dengan pelaku sejarah perjuangan Banjar menjadi Daerah Otonomi 10 tahun silam. HR menugaskan Redaktur Pelaksana Deni Supendi, untuk bertandang ke Pasantren Al-Azhar di Citangkolo, Desa Bojongkantong, Kec. Langensari, Kota Banjar.
HR datang ke Pesantren Al-Azhar sekitar pkl.20.00, dan bertanya kepada seorang santri bisa tidak ketemu dengan Pak Kyai Muâin, jawaban santri itu biasanya setelah Isya Pak Kyai jarang keluar.
Deni mencoba mengetuk pintu rumah sebanyak 3 kali sebagai sunnah Rosul, dan menunggu sebentar, tak lama Pak Kyai keluar dan HR mengucapkan salam. Tuan rumah mempersilahkan masuk.
Surat dari Pimpinan Umum HR diserahkan pada Pak Kyai dan dibacanya isi surat tersebut, tak lama langsung wawancara. Kyai Mu’in saat itu masih mengenakan jubah hijau pakaian kebesaran NU, mungkin agak lama membuka pintu, pasalnya Pak Kyai sedang wiridan.
Setelah selesai wawancara, saat HR membuka tas kamera Pak Kyai masuk ke kamarnya dan berganti dengan setelan jas. Langsung dilakukan pemotretan beberapa fose. Setelah itu HR pamit untuk kembali ke kantor redaksi.
Kyai Mu’in setelah selesai tugas dan Kotif Banjar beralih status menjadi Otonomi Daerah (Kota) Banjar. Pak Kyai Muâin kembali back to basic memimpin Pasantren Al-Azhar. Selamat membaca petikan wawancaranya;
***
HR : Bagaimana kenangan Anda bersama Presidium FPSKB, memperjuangkan Status Kotif Banjar menjadi Pemkot, 10 tahun lalu?
H. Mu`in : Alhamdlulillah memang sepuluh tahun yang lalu, secara pribadi, saya terlibat sebagai anggota presidium FPSKB. Saat itu saya masih Pengurus Jamaah PJ-NU. Dalam perjalanan memperjuangkan status Banjar, memang banyak hal yang kita alami, diantaranya yang menggembirakan dan juga menyedihkan.
Kemudian, yang menjadi tujuan kita berjuang kala itu, yakni bagaimana agar Banjar menjadi lebih baik, baik dari segi pembangunan infrastruktur atau yang lainnya. Saya masih ingat, ketika masih Kotif, anggaran yang dimiliki Banjar hanya sekitar Rp. 150 juta.
Atas dasar itu juga, sejumlah tokoh masyarakat Banjar, diantaranya Pa Bachtiar, Dr. Herman, dan yang lain, mengajak kepada saya untuk bergabung dalam memperjuangkan perubahan status Kotif Banjar.
Keinginan saya, dengan para tokoh tidak berbeda, yaitu sama-sama berupaya memperjuangkan kesejahteraan warga Banjar. Saya pun secara pribadi menyetujuinya, dan ikut serta dalam Presidium.
Dan Alhamdulilah, Alloh pun mengabulkan perjuangan masyarakat Banjar. Buktinya, saat ini Banjar menjadi sebuah kota yang cukup maju dan sejahtera. Pembangunan infrastruktur menjadi lebih baik.
HR : Kenapa Anda sampai terlibat memperjuangkan Status Kotif Banjar?
H. Mu`in : Alasan saya terlibat dalam hal ini, yaitu karena motivasi diri, niatan diri, ingin bersama-sama dengan masyarakat memperjuangkan kesejahteraan. Ketika ada upaya semacam ini, otomatis saya memutuskan untuk melibatkan diri.
Target kita adalah kesejahteraan bagi masyarakat, tidak ada alasan lain. Dan jika sampai ada masyarakat yang belum sejahtera, hal ini akan menjadi tunggakan atau hutang bagi presidium. Meskipun, secara kasat mata, kita sangat bersyukur, selama sepuluh tahun ini perkembangan Kota Banjar sangat maju.
Dari sisi anggaran, Kota Banjar sudah mempunyai anggaran sampai Rp. 530 milyar, berbeda dengan ketika masih kotif yang hanya Rp. 150 jutaan. Tapi lagi-lagi, dari jumlah penduduk Banjar yang hampir 200 ribuan, kalau masih ada salah satu yang tidak sejahtera, akan menjadi hutang bagi kita semua.
HR : Apa yang Anda impikan setelah Banjar menjadi Pemerintah Kota?
H. Mu`in : Yang saya impikan yaitu, terjadi satu kemajuan yang bagus. Dan kemajuan itu kemajuan yang hakiki dan adil, baik secara fisik, mental, dan spiritual, serta semua itu bisa dirasakan oleh masyarakat Banjar secara proporsional. Bukan berarti harus sama rata, tetapi justru harus bisa disesuaikan dengan porsinya.
HR : Apa kelebihan dan kekurangan Kota Banjar selama 10 tahun ini?
H. Mu`in : Pastinya dalam perjalanan 10 tahun ini, ada kelebihan dan kekurangan dari Pemkot Banjar. Bagi saya, yang perlu diacungi jempol dari kelebihan Banjar yaitu, masyarakatnya yang mau pro-aktif mendukung setiap kebijakan yang dikeluarkan oleh Pemkot.
Dukungan inilah yang kemudian menjadikan arah pembangunan di Kota Banjar bisa berjalan dengan baik. Seterusnya, Pemkot Banjar juga memberikan banyak peluang kepada masyarakat untuk menyampaikan aspirasi. Itu artinya, apa yang menjadi keinginan masyarakat banyak diakomodir oleh pemerintah.
Di balik kelebihan, ada kekurangan dari Pemkot Banjar. Tapi persentase dari kekurangan itu tentunya tidak sebesar dari kelebihan, atau sekitar nol koma berapa persennya. Misalnya, pelayanan di rumah sakit, pelayanan publik lain seperti dalam pembuatan KK, dan administrasi lainnya.
Ada hal lain yang penting untuk ditingkatkan, perlu digaungkan oleh Pemkot Banjar, yaitu soal kemerdekaan, dan kebebasan demokrasi. Dengan begitu, kemerdekaan berpikir dan berpendapat bisa benar-benar keluar dari hati nurani masyarakat itu sendiri.
HR : Menurut Anda, bagaimana karakter Kepemimpinan Kepala Daerah yang akan datang?
H. Mu`in : Sepuluh tahun ini, Alhamdulillah Banjar sudah dua periode dipimpin oleh Dr. Herman. Karena aturan hukum, beliau sudah tidak bisa lagi menjadi Walikota. Namun demikian, Pemimpin yang akan datang harus benar-benar memahami sejarah dari awal perjalanan perjuangan Kota Banjar, siapa yang berjuang, dan apa yang diperjuangkan.
Kedua, dia harus memahami terhadap perkembangan masyarakat Banjar yang semakin dinamis. Contohnya, dulu rata-rata pendidikan masyarakat Banjar hanya lulusan SD. Sementara sekarang masyarakat sudah mengenyam pendidikan yang lebih tinggi.
Selanjutnya, dia harus memahami bahwa masyarakat Banjar mayoritas umat Islam yang bersifat moderat, yang sangat menerima konsep kebangsaan. Dan terakhir, dia juga harus bisa memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa Banjar sudah menjadi sebuah kota. Agar dengan itu, masyarakat bisa diajak untuk lebih maju, dan tercipta masyarakat madani.
HR : Akankah terjadi krisis kepemimpinan, setelah Walikota DR. Herman Sutrisno berakhir?
H. Mu`in : Saya kira tidak. Saya tidak melihat ada krisis kepemimpinan di Kota Banjar setelah masa jabatan DR. Herman sebagai Walikota berakhir.
Masih banyak figur yang mampu menggantikan DR. Herman, hanya saja memang belum muncul, karena memerlukan mekanisme seleksi alam. Saya optimis, akan ada figur calon Walikota yang bisa memimpin Kota Banjar kedepan. Sekarang tinggal bagaimana kita mempersiapkan proses penyeleksian dan mencari pemimpin untuk Kota Banjar yang tepat. ***