Banjar, (harapanrakyat.com),- Sepak terjang kepemimpinan Ketua Paguyuban Seni dan Budaya Banjar (PaSeBBan) sekarang ini terus menuai protes dari kalangan komunitas seni yang ada di Kota Banjar, baik komunitas seni tradisional maupun modern.
Mereka mendesak agar secepatnya dilakukan pergantian ketua, karena peran wadah seniman tersebut saat ini dinilai terlalu intervensi, dan terkesan akan mempersulit komunitas seni untuk berekspresi melalui suatu pagelaran/kegiatan.
Selain itu, mereka juga mendesak agar PaSeBBan dikembalikan lagi ke semula, yaitu Panglawungan Seniman Banjar (Paseban), dimana peran wadah ini benar-benar dirasakan manfaatnya oleh semua komunitas seni.
Seperti diungkapkan Kusnadi Jupen, dari Persatuan Artis Musik Melayu dangdut Indonesia (PAMMI). Menurut dia, seharusnya peran PaSeBBan itu untuk mempererat atau menyatukan para seniman di Kota Banjar. Bukan malah mengintervensi.
“PaSeBBan ini skupnya kecil, jadi kalau mengintervensi lebih baik bubarkan saja, atau dikembalikan seperti semula. Kami malu dengan isi surat yang dilayangkan Ketua PaSeBBan kepada Bidang Kebudayaan dan Pariwisata, kemudian juga kepada Disparbud Provinsi, KNPI Banjar dan Walikota beberapa waktu lalu,” katanya Senin (8/10).
Kusnadi mengatakan, keberadaan PaSeBBan kali ini seperti biro jasa, yang hanya memikirkan materi semata, bukan memikirkan bagaimana caranya agar seniman di Banjar bisa bersatu, dan menampilkan karyanya melalui sebuah kegiatan.
Bukan hanya itu, kata Kusnadi, pada waktu pengangkatan wakil menjadi ketua, banyak komunitas seni yang kecewa. Sebab pemilihan ketua tidak dilakukan secara langsung oleh seniman. Bahkan, peran Dewan Pembina yang notabene bukan seniman dianggap terlalu ikut campur terlalu jauh.
“Ketika kami mempertanyakan masalah pengangkatan tersebut, katanya hal itu berdasarkan AD/ART PaSeBBan. Kami tanya, aturan yang mana. Apakah sudah disosialisasikan sebelumnya ke semua komunitas, kan tidak. Dan seharusnya, ketika ketua sebelumnya mundur dari jabatannya, Dewan Pembina dan pengurus harus mengadakan musyawarah, serta memanggil ketua. Tanya apa penyebabnya, jangan malah langsung mengangkat wakil jadi ketua,” kata Kusnadi.
Hal serupa diungkapkan Ibing, perwakilan dari pelaku seni pencak silat Sinar Budi Harapan. Menurut dia, kepemimpinan Ketua PaSeBBan saat ini juga dinilai terlalu banyak janji, akan tetapi pada kenyataannya hanya wacana semata.
“Dulu ketika baru menjabat sebagai ketua, berjanji akan memberi bantuan berupa alat musik yang biasa digunakan dalam seni ibing pencak. Tapi sampai detik ini boro-boro bantuan, kabarnya pun tidak ada. Bagi kami, meskipun tidak ada PaSeBBan kami tetap bisa tampil, karena selama ini yang sering merangkul kami untuk tampil bukan PaSeBBan, tapi KNPI,” kata Ibing.
Sementara itu, Sarjang, mantan Ketua PaSeBBan yang dipaksa mundur, mengatakan, yang perlu dibenahi sekarang ini pertama masalah penulisan PaSeBBannya. Untuk itu, dirinya atas nama seniman memohon agar dikembalikan ke asal, yaitu Panglawungan Seniman Banjar (Paseban).
Kemudian yang kedua, masalah arti seniman, kalau alasannya menurut ketua bahwa tidak ada seniman di Kota Banjar, maka dirinya membuka kamus yang diterbitkan oleh Depatemen Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, di situ tertulis bahwa seniman itu orang yang mampu membuat karya seni, baik seni rupa, seni tari, seni musik, ataupun seni lainnya.
“Jadi, kalau Ketua PaSeBBan menganggap di Kota Banjar tidak ada yang layak disebut seniman, maka komunitas seni di Banjar protes, karena mereka mampu membuat karya seni yang bagus, baik seni lukis, seni musik atau seni tari,” katanya.
Hal itu mulai terbukti semenjak adanya pagelaran kesenian dalam kegiatan Renstra tahun 2004 sampai sekarang. Mereka telah melahirkan banyak karya seni yang bisa dipertontonkan dan ternyata disukai masyarakat.
Lanjut dia, kalau Ketua PaSeBBan mengatakan bahwa itu bukan karya seni dari para seniman, maka diperkirakan ketua yang mungkin bukan seniman.
“Lalu yang ketiga, karena banyak seniman yang ngobrol ke saya bahwa kepemimpinan sekarang, serta kekeruhan yang terjadi saat ini harus segera dinetralisir dan ditanggulangi,” harapnya.
Intinya, para seniman ingin kembali lagi ke Paseban yang dulu, dimana tidak ada Dewan Pembina yang banyak ikut campur urusan intern, sehingga PaSeBBan sekarang hanya bisa berwacana tanpa ada hasilnya.
Kemudian, mengenai dana bantuan dari pemerintah untuk kegiatan Ngabungbang di Desa Batulawang beberapa waktu lalu, yang dipotong oleh Ketua PaSeBBan sebesar Rp.800.000, harus diklarifikasi dan dipertanggungjawabkan penggunaannya, kalau tidak ingin dicap sebagai koruptor.
“Dan terakhir, kepada Seksi Kebudayaan Dihubkopinpar Kota Banjar, tolong fasilitasi kami untuk kembali mengadakan rapat, atau ngariung guna membicarakan masalah pembentukan ketua dan kepengurusan baru. Supaya benar-benar jeli menanggapi aspirasi para seniman di Kota Banjar. Tapi, bagi Dewan Pembina yang bukan seniman kami minta tidak perlu dilibatkan,” harap Sarjang. (Eva)