Banjar, (harapanrakyat.com),- Masyarakat yang tinggal di sekitar Sungai Citanduy, tepatnya di Lingkungan Parunglesang, Kelurahan Banjar, Kec. Banjar, kini mulai kesulitan mendapatkan air bersih untuk kebutuhan mandi, cuci, kakus (MCK) dan memasak.
Kesulitan mendapatkan air bersih memang sudah biasa dialami mereka jika musim kemarau tiba. Pasalnya, persediaan air pada sumur resapan yang mereka miliki akan cepat berkurang manakala air sungai mulai menyusut.
Untuk memenuhi kebutuhan MCK, terpaksa harus mereka lakukan di Sungai Citanduy. Sedangkan, sisa air di dalam sumur digunakan bagi kebutuhan memasak. Menurut Dede (43), warga setempat, kalau selama satu bulan kedepan tidak juga turun hujan, maka sumur milik warga di daerah itu akan kering.
“Kemarau selama dua minggu saja sumur di daerah sini sudah mulai menyusut, paling cukup untuk kebutuhan memasak saja. Kalau minum kan warga hampir semuanya menggunakan air galon, jadi penggunaan air sumur bisa lebih irit. Sedangkan mandi dan nyuci ya terpaksa harus ke sungai,” tuturnya, Sabtu (28/7).
Diakui Dede, mandi menggunakan air sungai memang tidak akan sebersih memakai air sumur, lantaran dari daerah hulu sungai juga banyak warga lainnya yang melakukan hal sama.
Namun demikian, permasalahan bersih atau tidaknya bukan lah suatu masalah, yang penting dia dan keluarganya masih bisa mandi dua kali dalam sehari.
Sementara menurut Neni (41), warga lainnya, mengatakan, bahwa dirinya bukan tidak ingin memasang saluran air bersih PDAM. Namun, karena biaya pemasangannya mahal, maka keinginan tersebut tidak mampu diwujudkan.
“Tentu saja saya sekeluarga sangat membutuhkan pasokan air bersih dari PDAM, apalagi disaat seperti sekarang ini, dimana air sungai terus menyusut maka air sumur juga ikut menyusut. Kalau punya ledeng kan enak, walau pun kemarau tapi tetap bisa mendapatkan air bersih. Tapi sepertinya saya tidak akan sanggup membayar biaya pemasangan maupun tagihan bulanannya, terlalu berat buat masyarakat kecil seperti saya,” terangnya.
Neni mengaku, melakukan MCK di sungai pada saat musim kemarau biasanya dilakukan warga secara beramai-ramai, baik pagi maupun sore hari. Pemandangan seperti itu sudah biasa terlihat hampir di sepanjang pinggir sungai. (Eva)