Ciamis, (harapanrakyat.com),- Guna mengatasi ketergantungan impor kedelai dari luar negeri, sedianya para petani di wilayah Kabupaten Ciamis dapat mengoptimalkan produksi kedelai, minimalnya untuk memenuhi permintaan industri rumahan tahu dan tempe di tingkat lokal.
Sekretaris Badan Pelaksana Penyuluh Pertanian Perikanan dan Kehutanan (BP4K) Kab. Ciamis, Ir. Didi Sutardi, Kamis (26/7), di ruang kerjanya mengatakan, berkaitan dengan peningkatan jumlah penduduk dan produksi pangan khususnya berbahan dasar kedelai, menuntut kalangan pertanian untuk terus meningkatkan jumlah produksi kedelai.
Dengan begitu, kata Didi, segala bentuk metode, pendekatan, teknik dan teknologi harus diterapkan dalam bidang pertanian, sebagai upaya meningkatkan produksi bahan baku kedelai tersebut, baik pada tingkatan lokal, regional ataupun nasional.
Meski diakui Didi, banyak kendala yang masih menghambat keinginan untuk meningkatkan produksi kedelai. Diantaranya, sumber daya manusia (SDM) para petani, belum lagi faktor cuaca.
Selain itu, para petani juga sepertinya masih terkesan kurang bergairah menanam kedelai. Alasannya karena mereka merasa, belum adanya jaminan harga jual, ketika mereka akan menjual kedelai di pasaran.
Menurut Didi, para petani justru kurang tertarik untuk memproduksi kedelai dengan alasan produk yang dihasilkan tidak seimbang dengan biaya yang dikeluarkan. Sedangkan sejumlah petani, menanam kedelai hanya untuk sampingan semata.
Lebih lanjut, Didi mengutarakan, ketergantungan impor kedelai harus mulai dikurangi. Sebaliknya, pemerintah juga perlu memberi perhatian khusus pada ketersediaan pasokan dari dalam negeri.
Impor kedelai yang umumnya dari Amerika Serikat mencapai angka 60 persen. Maka, ketika produksi dari daerah penghasil terganggu oleh musim atau distribusi, maka harga jual di dalam negeri ikut melonjak.
Ketergantungan impor kedelai dapat dikurangi bila petani melihatnya sebagai komoditas yang menjanjikan keuntungan lebih baik. Untuk itu, harga harus terjamin terutama pada saat panen. (dji)