Sadananya, (harapanrakyat.com),– Populasi burung Jeuit, atau biasa dijuluki burung kaca mata yang ada di Desa Gunung Sari, Kec. Sadananya, Kab. Ciamis, kini keberadaannya nyaris punah akibat maraknya perburuan satwa-satwa liar di kalangan masyarakat.
Jika hal itu dibiarkan tanpa adanya pelarangan dan pengawasan dari pihak Pemkab. Ciamis, maka keberadaan populasi tersebut dikhawatirkan akan mengalami kepunahan.
Warga meminta agar pemerintah daerah segera menindak tegas para pemburu burung Jeuit supaya kelestarian dan populasinya tetap terjaga.
Seperti diungkapkan Sodik, warga setempat. Dia mengatakan, banyaknya orang yang berburu burung Jeuit lantaran jenis burung tersebut tengah ngetrend, terlebih adanya isu bahwa harganya bisa mencapai jutaan rupiah.
âAkibat ada isu seperti itu sehingga orang banyak melakukan perburuan. Mereka tidak mengindahkan lagi dampak yang akan terjadi. Contoh, terganggunya keseimbangan ekosistem maka jumlah hama tanaman menjadi tidak terkontrol karena adanya domestikasi burung pemangsa yang merupakan musuh alami bagi hama tanaman,â kata Sodik, pekan lalu pada HR.
Pendapat serupa dikatakan Totong, warga lainnya. Menurut dia, akhir-akhir ini jenis burung Jeuit sudah jarang terlihat dan terdengar kicauannya. Padahal, tahun lalu jenis burung tersebut selalu berdatangan ke atas pohon jengkol dan petai yang ada di belakang rumahnya.
âKalau sekarang, jangankan melihat, ingin mendengar suaranya pun sangat sulit. Untuk mendapatkan satu atau dau ekor burung Jeuit, para penggemar burung terpaksa harus melakukan perburuan hingga luar kecamatan,â ujarnya.
Ditemui di lain tempat, tokoh masyarakat Desa Tanjungjaya, Kec. Rajadesa, Kab. Ciamis, H. Dedi Suryadi, mengatakan, upaya pelestarian sumber daya alam hayati dan ekosistemnya merupakan tanggung jawab semua pihak. Para pemburu liar dinilai sebagai orang serakah yang tidak bisa turut melestarikan sumber daya alam dan ekosistemnya. (dji)