Banjar, (harapanrakyat.com),- Pihak Pemerintah Kota Banjar menyebutkan, salah satu penyebab kegagalan Kota Banjar meraih penghargaan Adipura adalah kurangnya partisipasi dari masyarakat.
Karena, berapa pun banyaknya upaya yang dilakukan pemerintah akan sia-sia kalau masyarakatnya belum bisa mencintai kebersihan lingkungan, baik di perkotaan maupun di wilayah pedesaan.
Satu prestasi yang belum pernah diraih Kota Banjar adalah penghargaan Adipura. Penghargaan tersebut menjadi penyempurna dari berbagai penghargaan yang telah diraih Kota Banjar.
Namun, Adipura akan sulit diraih tanpa adanya dukungan dari semua elemen masyarakat. Bahkan, seharusnya menjaga kebersihan lingkungan itu bukan hanya untuk Adipura saja, tapi sudah menjadi kebiasaan bagi semua masyarakat.
Tetapi, apakah kurangnya partisipasi itu akibat ada missingly antara pemerintah dengan masyarakat, atau memang masyarakatnya sendiri tidak mau mengerti akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan?
Untuk mengetahui sejauh mana masyarakat memahami tentang penghargaan Adipura dan pentingnya menjaga serta mencintai lingkungan, HR mencoba meminta tanggapan langsung kepada masyarakat.
Tanggapan tersebut salah satunya dikatakan Ketua RT 01/10, Lingkungan Parunglesang, Kel. Banjar, Dede Setiawan. Menurutnya, kebersihan lingkungan sudah menjadi kewajiban bagi setiap masyarakat, minimal kebersihan di sekitar tempat tinggal masing-masing warga.
Mengenai Adipura, seharusnya dalam mensosialisasikan program tersebut jangan hanya dibebankan pada ketua RT saja, namun alangkah baiknya ada dari pihak pemerintah yang terjun langsung ke masyarakat.
“Sosialisasi biasanya hanya dilakukan di kelurahan dengan mengundang ketua RT, RW, maupun tokoh masyarakat. Itu berarti, untuk mensosialisasikan lagi ke masyarakat secara luas harus dilakukan oleh ketua RT. Sebaiknya harus ada juga dari tingkat pemerintahan di atasnya, misalkan Camat atau Lurah, karena paling sulit menggerakan masyarakat dalam hal beberesih, khususnya di pinggir jalan,” tuturnya Sabtu (9/6).
Lanjut Dede, dirinya bukan tidak mau menggerakkan warganya untuk melakukan beberesih saat ada himbauan dari pemerintah dalam rangka Adipura. Bahkan, ajakan gerakan Jumsih pernah dilakukan dengan cara mengumumkannya melalui speker di mesjid.
Namun, pada pelaksanaannya warga yang datang melakukan beberesih hanya dua orang saja. Itu berarti, sebagian besar masyarakat belum menyadari akan pentingnya kebersihan lingkungan secara luas.
Banyak warga yang masih beranggapan menjaga kebersihan itu cukup di rumah masing-masing saja. Sedangkan, kebersihan di pinggir jalan merupakan kewajiban warga yang memiliki rumah di tempat tersebut.
“Jadi setelah himbauan saya tidak digubris, akhirnya saya juga tidak bisa memaksa dengan mendatangi masing-masing rumah warga. Saya berfikir positif saja, mungkin warga tidak melakukan Jumsih atau kerja bakti itu karena mereka capek kerja, sebab warga saya kerjanya rata-rata kuli kasar. Tapi yang jelas selaku ketua RT sudah mencoba menyampaikan mengenai program Adipura,” katanya.
Di tempat terpisah, Cucu, salah seorang penarik becak yang biasa mangkal di Jl. Dr. Husen Kartasasmita, mengaku, dirinya pernah mendengar masalah Adipura. Namun, dia tidak begitu paham, yang dia tahu bahwa masyarakat harus melakukan kerja bakti membersihakan jalan supaya Kota Banjar dapat penghargaan Adipura.
“Kalau saya sendiri tidak ikut kerja bakti, karena kalau ikut nanti waktu saya semakin berkurang untuk mencari muatan, mana jaman sekarang susah nyari penumpang. Dan kalau cuma untuk beberesih di pinggir jalan kan sudah ada petugasnya. Yang penting mah masyarakat beberesih di rumahnya masing-masing saja. Kecuali ada gerakan padat karya, misalkan membersihkan jalan atau membuat jalan kip, itu kan ada upahnya,” ujarnya.
Pendapat serupa juga diungkapkan Muhtar, penarik becak lainnya yang mangkal di kawasan Pasar Banjar. Menurut dia, sebetulnya Kota Banjar sudah terlihat bersih, baik di pinggir jalan yang ada di wilayah pedesaan, maupun di wilayah perkotaan.
“Masalah beberesih di lingkungan, sebetulnya masyarakat juga sudah biasa melakukan hal itu, minimalnya di sekitar rumah kita. Sebab kita juga tidak betah kalau tinggal di rumah yang kotor mah. Kalau untuk masalah pengelolaan sampah, itu kan sudah ada petugasnya dari pemerintah. Karena percuma, masyarakat memilah sampah, tapi begitu diangkut oleh petugas, sampah itu disatukan dalam satu gerobak,” katanya.
Dari semua yang telah diungkapkan sejumlah masyarakat itu, kemungkinan besar sekarang ini gerakan Jumsih atau kerja bakti dalam rangka menciptakan kebersihan lingkungan sudah semakin memudar.
Berbeda dengan gerakan padat karya, dimana masyarakat bisa dengan mudah manakala pemerintah setempat meminta untuk melakukan sesuatu bagi kepentingan lingkungannya melalui padat karya. Pasalnya, dengan mengikuti gerakan tersebut mereka akan mendapat imbalan. (Eva)