Demi Kejar PAD, Kolam di Kontrak âBawah Tanganâ
Kondisi sarana dan prasarana yang berada di UPTD Balai Benih Ikan (BBI) Kubangsari kini sangat memprihatinkan. Padahal uang rakyat yang tertanam di BBI hingga saat ini telah mencapai Rp. 12 Miliar. Sebuah angka fantastis, akan tetapi unit teknis ini dianggap masih belum maksimal dalam meraup Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Sejumlah fasilitas bangunan sudah tak layak pakai, seperti bangunan kolam deder yang tepat berada dibelakang kantor UPTD. Kini, kondisinya bak bangunan yang terkena terjangan angin puting beliung. Padahal pembangunannya baru berumur kurang lebih 7 tahun.
Tak kalah parahnya, kolam yang diperuntukkan bagi kolam pemancingan pun bernasib serupa. Bahkan, satu lokasi kolam pemancingan sudah tak beratap, alias ambruk tak bersisa. Padahal baru saja dibangun kurang lebi 3-4 tahun ke belakang.
Hal serupa menimpa 3 bangunan hatchery lainnya. Ketiga hatchery itu kini tak berproduksi, hanya satu yang mampu menghasilkan pendapatan. Pihak UPTD berkilah keterbatasan sumber daya manusia (SDM) yang menjadi kendala utama akibat tak beroperasinya ketiga hatchery itu.
Sementara itu, terdapat tiga kolam yang sama sekali tak berfungsi. Menurut salah seorang petugas di BBI menyebutkan, ketiga kolam tersebut mengalami kebocoran total, akibat pondasi kolam ambrol. âSudah hampir 3 tahun tak berfungsi dan belum ada perbaikan,â ujarnya.
Tak hanya kolam yang tak berfungsi, saluran air yang bertujuan untuk mengairi kolam-kolam ikan yang berada di belakang pun ikut turut tak berfungsi. Akhirnya, kolam tersebut tak berjalan sesuai teknis budidaya perikanan.
Sebuah bangunan mewah diatas kolam yang dilengkapi kamar ber-AC pun, konon tak banyak bermanfaat. Bahkan, bangunan mewah itu mangkrak tak berfungsi sama sekali. Hal itu pun terjadi pada bangunan kios kolam pemancingan, karena kolam pancing tak berfungsi otomatis bangunan itu pun ikutan mangkrak.
Beberapa kolam pun terlihat tak terurus sesuai cara pembenihan ikan yang baik (CPIB), hal itu tentu akan mengganggu cara budidaya ikan yang baik (CBIB). Kolam dipenuhi oleh tanaman air, bak layaknya kolam tepi rawa. Mungkin, lagi-lagi karena memang faktor kekurangan SDM.
Informasi yang tak kalah mengejutkan, yaitu adanya pihak luar yang menyewa kolam-kolam yang berada di BBI. Menurut keterangan petugas BBI menyebutkan, bahwa kolam yang masih bisa dipakai disewakan dengan harga Rp. 8000/meter persegi persekali panen ikan.
âYang saya dengar seperti itu, sebab ada pejabat dari Dinas yang datang kesini mengintruksikan seperti itu,â ungkapnya.
Menurut pengakuan petugas tersebut, sebenarnya tak terawatnya BBI Kubangsari akibat pihak UPTD terlambat menentukan pangsa pasar yang akan ditempuh. Sehingga, dalam beberapa tahun terkahir tak jelas akan memproduksi benih ikan apa yang bagus harga di pasar.
âDitambah lagi, sejumlah bangunan dan kolam memang berkwalitas rendah bangunannya. Belum sepuluh tahun sudah pada rusak, dan memang biaya perawatan sarana dan prasarana selalu minim,â pungkasnya. (eva/SBH)