Tempo doeloe bioskop Kenanga adalah salah satu tempat hiburan rakyat, yang paling banyak diminati masyarakat Banjar, Ciamis selatan, dan Cilacap barat. Film yang diputar di bioskop ini fim barat, film nasional dan India. Bioskop Kenanga dengan arsitektur Art Deco (Belanda) yang dibangun di era tahun 1930, sebagai tempat hiburan kaum kolonial Belanda, bangsawan dan orang asing seperti China pengusaha berkelas. Orang kecil yang disebut Inlander, tak bisa masuk ke tempat itu.
Bangunan yang termegah saat itu, diawal kemerdekaan RI berubah menjadi pabrik tenun tapi tidak lama. Bangunan itu dirubah menjadi biskop (GEDUNG FILM) bernama Rialto, menjadi tempat hiburan yang sangat digemari masyarakat Banjar yang mengubah citra Banjar menjadi Kota tak pernah tidur. Pasalnya, tak jauh dari gedung Biskop ada pasar Banjar dan stamplet bus, agak ke selatan ada stasiun kereta api, dan hotel Sukapura (sekarang menjadi gedung BNI) selain itu di sekitar stasiun bermunculan losmen-losmen dan warung makan.
Setelah meletus peristiwa G 30 S/PKI tahun 1965 bioskop itu menjadi tempat tahan politik G 30 S/PKI sampai tahun 1967. Kembali lagi menjadi bioskop tapi namanya diganti menjadi bioskop Patroman, dan di awal tahun 1970 bioskop itu berganti nama lagi menjadi Bioskop Kenanga. Kepemilikan gedung bioskop merupakan aset Pemda Provinsi sampai sekarang.
Di massa jayanya gedung bioskop Kenanga, pernah memutar film barat yang kesohor seperti Benhur, Cleopatra, James Bond 007, dan film nasional pejuang, Jendral Kancil, Mat Codet. Tiga Dara dll, juga film India yang terkenal dengan bintang filmnya Amitabh Bachchan. Penontonnya berdatangan dari Cijulang, Parigi, Pangandaran, Kalipucang, Padaherang, Lakbok, Banjarsari, Pamarican, Cisaga, dan Rancah itu dari wilayah Kabupaten Ciamis. Dan dari Kabupaten Cilacap, Majenang, Dayeuhluhur, Wanareja, Sidareja datang hanya untuk menonton film.
Penggemar bioskop yang berdatang dari luar kota menyempatkan waktu, sampai menginap di hotel dan losmen-losmen. Sambil berbelanja pakaian, bahkan menonton sandiwara dengan bintang panggung waktu itu Simata Roda dari Semarang dan bintang keroncong dari Yogyakarta. Karena selain hiburan bioskop, sandiwara, ada pasar malam yang menampilkan orkes keroncong dengan bintang tenar masa itu. Kenapa bioskop di Banjar saat itu sangat laku, lebih bagus film-film yang diputar sama dengan di Tasikmalaya yang juga diserbu penonton dari Ciamis. Film yang diputar di Banjar baru masuk ke bioskop Pusaka di Ciamis.
Itu cerita Bioskop Kenanga tempo doeloe, bagaimana nasib Bioskop Kenanga yang pernah tersohor itu sekarang. Gedung bioskop itu sekarang menjadi rumah hantu, tak terurus rusak berat ditumbuhi ilalang. Hanya tinggal menunggu waktu akan roboh sendirinya, yang dikhawatirkan menimpa orang. Karena berada di kawasan perdagangan yang ramai di kota Banjar dan di sekitarnya bermunculan pedagang kaki lima yang ramai sampai malam.
Seperti di musim kemarau ini, bila terjadi kebakaran di areal Bioskop Kenanga bisa menghanguskan Kota Banjar, nampaknya Pemerintah Kota Banjar dan masyarakat di sekitar terutama para PKL kurang peduli menjaga keamanan dan kebersihan.