Distan masih meraba-raba komoditas unggulan
Banjar, (harapanrakyat.com),- RPJMD Kota Banjar memasuki periode kedua, tahun 2009-2013, dengan kata lain, tinggal 2 tahun sisa waktu untuk mencapai Perekonomian Kota Banjar berbasis Agribisnis.
Sisa waktu ini menuntut Organisasi Perangkat Daerah (OPD) untuk segera menata dan menyelesaikan target pencapaian itu. Terlebih siswa waktu 2 tahun bukanlah waktu yang lama. Sementara beban kegiatan dan program pendukung target tersebut masih banyak menanti.
Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Pertanian (Distan) Kota Banjar, Nana Sutarna, didampingi Sekretaris, Asiwn Buhendi, Senin (13/6) mengatakan, pihaknya sudah mengupayakan sejumlah program untuk mencapai target itu.
Belum tercapainya perekonomian yang berbasis agribisnis, tentunya akan berimbas kepada terwujudnya kawasan Agroindustri. Padahal, pihak Pemerintah Kota Banjar melalui Dinas Pertanian sebetulnya telah membuat program untuk pencapaian kawasan Agroindustri.
Akan tetapi sayang, program itu tak mendapatkan pembinaan yang berkelanjutan. Salah satu contoh yaitu, pabrik pengolahan kayu putih. Saat ini masih belum maksimal. Padahal, jika difungsikan dengan baik, pabrik ini bisa memberikan manfaat yang cukup berarti bagi masyarakat.
Soal pabrik pengolahan kayu putih, Nana mengatakan, pihaknya masih perlu memberikan pemahaman kepada masyarakat, bahwa tanaman kayu putih yang berada di sepanjang jalur yang ada di wilayah masing-masing dijaga dengan baik. Nana juga mengungkapkan, pihaknya masih terkendala dengan jumlah petugas pengambil daun kayu putih.
Namun, untuk saat ini, pengambilan daun kayu putih tersebut menunggu waktu panen. Sehingga pabrik pengolahan masih belum bisa dijalankna sampai waktu tersebut. Dan biasanya panen daun kayu putih dilakukan ketika memasuki bulan ke Sembilan.
Selain itu, Nana juga menyebutkan program-program yang sudah dilakukan pihak Distan, diantaranya memberikan pelatihan bagi 30 petugas penyuluh lapangan (PPL) dari Kecamatan Langensari, Pataruman, dan Banjar tentang budidaya tanaman kedelai.
Nana menjelaskan, saat ini pihaknya menargetkan budidaya tanaman di lahan seluas 100 hektar yang tersebar di wilayah 3 kecamatan tersebut. Menurutnya, para PPL ini nantinya akan memberikan pelatihan dan pendampingan langsung kepada petani untuk membudidayakan tanaman kedelai ini.
Lebih jauh, Nana menambahkan, proyeksi tersebut diarahkan untuk memenuhi kebutuhan kedelai masyarakat Kota Banjar. Salah satu targetnya agar para pengusaha tahu dan tempe yang ada di wilayah Banjar tidak harus mencari bahan baku di luar daerah, ketika ketersediaan bahan baku sudah ada di daerah sendiri.
Meski begitu, Nana menegaskan bahwa pihaknya sudah melakukan berbagai upaya dan usaha dalam rangka mencapai target Banjar Agropolitan. Terlepas dari itu semua, Nana juga mengakui bahwa dalam perjalanannya, pihak Distan memiliki keterbatasan, sehingga menghambat kinerja pihaknya.
Dia beralasan, membangun paradigma dan mindset masyarakat petani Kota Banjar tidak semudah membangun gedung bertingkat. Perlu usaha keras dan partisipasi dari semua pihak dalam merealisasikan tujuan itu.
Untuk itu, pihaknya membuka diri kepada semua kalangan masyarakat, untuk bersama-sama membangun dan memajukan Kota Banjar, khususunya di sektor pertanian. Dengan demikian, visi Kota Banjar Agropolitan bisa tercapai.
Apa Itu Agribisnis?
Dalam Wikipedia/ Enslikopedia bebas disebutkan bahwa agribisnis adalah bisnis berbasis usaha pertanian atau bidang lain yang mendukungnya, baik di sektor hulu maupun di hilir. Penyebutan “hulu” dan “hilir” mengacu pada pandangan pokok bahwa agribisnis bekerja pada rantai sektor pangan (food supply chain).
Agribisnis, dengan pandangan lain, adalah cara pandang ekonomi bagi usaha penyediaan pangan. Sebagai subjek akademik, agribisnis mempelajari strategi memperoleh keuntungan dengan mengelola aspek budidaya, penyediaan bahan baku, pascapanen, proses pengolahan, hingga tahap pemasaran.
Istilah “agribisnis” diserap dari bahasa Inggris: agribusiness, yang merupakan asal kata dari agriculture (pertanian) dan business (bisnis). Dalam bahasa Indonesia dikenal pula varian anglisismenya, agrobisnis.
Objek agribisnis dapat berupa tumbuhan, hewan, ataupun organisme lainnya. Kegiatan budidaya merupakan inti (core) agribisnis, meskipun suatu perusahaan agribisnis tidak harus melakukan sendiri kegiatan ini.
Apabila produk budidaya (hasil panen) dimanfaatkan oleh pengelola sendiri, kegiatan ini disebut pertanian subsistem, dan merupakan kegiatan agribisnis paling primitif. Pemanfaatan sendiri dapat berarti juga menjual atau menukar untuk memenuhi keperluan sehari-hari.
Dalam perkembangan masa kini, agribisnis tidak hanya mencakup kepada industri makanan saja karena pemanfaatan produk pertanian telah berkaitan erat dengan farmasi, teknologi bahan, dan penyediaan energi. (deni)