Bubur ayam menjadi makanan rakyat dari berbagai lapisan. Dan menjadi salah satu makanan favorit masyarakat yang bisa didapatkan di kaki lima hingga hotel berbintang. Berjualan bubur ayam, dengan racikan sendiri yang diberikan orang tua. Membawa berkah untuk bisa menompang kehidupan, yang layak untuk menghidupi keluarga. Meski begitu, harus melewati kerja keras dan ketekunan yang bisa mendorong roda kehidupan berputar dengan rejeki yang halal.
***
Mohamad Akma Shaki.H.
Enceng Rusmana (37) asli Desa Binangun, istri N.Suarni (35) yang dinikahi Enceng tahun 1999 pasangan ini asli urang pituin Kota Banjar. Dan mempunyai tiga anak, dua laki-laki dan satu perempuan, anak pertama Wildan (9), Welly (5), dan Windi (3). Awal kehidupan Enceng tak semulus sekarang, dia mencoba urban ke kota Bandung bekerja di pabrik. Bukan rejeki yang bertambah bekerja di pabrik, di PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) yang didapat. Dari situ mencoba berkelana mengadu nasib ke Bekasi, mendapat pekerja di pabrik juga. Tak lama bekerja di Bekasi, dewi fortuna tak berpihak kepada Enceng pabrik tempat kerjanya bangkrut.
Keputusan diambil untuk pulang kampung ke kota Banjar, mencoba mencari peruntungan berjualan bakso. Tak bertahan lama, karena harga daging yang terus naik. Selain itu persaingan ketat, dengan pedagang bakso Jawa yang telah menguasai kota-kota di Priangan timur. Inspirasi datang ingat dari kebiasan orang tuanya bila membikin bubur beras. Dengan racikan sendiri, berjualan bakso pun ditinggalkan. Berganti dengan bubur ayam, dengan bumbu tujuh rupa dengan racikan sendiri. Enceng berjualan bubur dengan modal Rp. 1 juta.
Enceng memulai berjualan bubur pada tahun 2002, yang dimaksud bumbu tujuh rupa itu, pedas, ketumbar, kunyit, bawang merah, putih, salam dan sereh. Tidak menggunakan santen kelapa. Bubur ayam kental, olahan tangan Enceng ditambah racikan daging ayam, cakue, bawang goreng, goreng kacang ditambah telur ayam rebus. Gerobak dagangan bubur ayam Enceng, mangkal di segi tiga Jalan Tentara Pelajar (Dahulu segitiga RCA), mulai berjualan pkl 7 malam sampai pkl 3 pagi.
Bubur ayam OKE begitu namanya, pelanggannya banyak, tidak hanya urang Banjar wungkul, daerah-daerah sekitar Kota Banjar. Seperti dari Cimaragas, Pamarican, Cisaga, sampai Banjarsari dan Majenang (Jawa Tengah) perbatasan dengan Kota Banjar. Berdatangan ke bubur ayam OKE Enceng gondrong, nongkrong sampai pagi. Bahkan orang yang mau piknik ke Pangandaran orang dari Jakarta, Bandung, Purwokwrto dan Yogyakarta bila lewat malam hari pasti nongkrong di Bubur Ayam OKE. Untuk istirahat menunggu pagi, juga membungkus buat oleh-oleh. Banyak ibu-ibu yang meminta resep bumbu tujuh rupa, pada Enceng gondrong.
Semangkuk bubur ayam OKE, cuma Rp.5 ribu, tapi yang pesan setengah porsi pun dilayani dengan harga Rp.3 ribu, pokoknya murah meriah, ucap Enceng. Lebih jauh Enceng menyebutkan, sering sekali wartawan dari tv, koran dan majalah bila akan ke Pangandaran juga nongkrong di bubur ayam OKE. Sekali-kali turis bule, Jepang dan Korea juga ngabubur di sini sambil menunggu kereta pagi yang jurusan Bandung-Yogyakarta, tambah Enceng dengan berkomunikasi bahasa tarzan yang penting sama ngerti aja. Tapi juga ada yang datang bersama peterjemahnya. Kehidupan malam kota Banjar, setiap hari di jalani Enceng untuk berjualan bubur ayam yang semakin bertambah pelanggannya. Ini semuanya dilakukan untuk kehidupan keluarga saya, sekarang dia sudah punya vespa antik.
Berjualan bubur ayam, sekarang buat Enceng gondrong adalah pilihan hidupnya. Setiap bulan saya menabung untuk biaya sekolah ketiga anaknya, agar mendapat pendidikan yang lebih baik untuk bekal kelak dewasa anak-anaknya. Dia yakin bahwa roda kehidupan akan terus berputar, karena itu kita harus mau cape dan terus berjuang untuk mencapai kesuksesan.***