Panjalu, (harapanrakyat.com),- Warga Kampung Tembong, Desa Kertamandala, Kec. Panjalu, Kab. Ciamis yang berada di kaki Gunung Syawal, diteror macan tutul. Sedikitnya 40 kambing milik warga mati dimangsa oleh macan tutul yang turun dari habitatnya di Gunung Syawal.
Dari informasi yang dihimpun, keberadaan macan tutul yang masuk ke perkampungan sebenarnya belum diketahui warga. Hanya, jejak koyakan kuku macan tutul yang runcing itu ditemukan di setiap bangkai kambing yang dimangsanya.
Melihat bangkai kambing yang terkoyak berceceran, sontak warga setempat panik. Warga khawatir macan tutul itu di kemudian hari akan memangsa manusia.
Menurut seorang warga setempat, Eli, di lokasi kejadian, kepada HR, mengatakan, terakhir 5 bangkai kambing ditemukan pada Senin dini hari(11/4). Selama kurun waktu dua minggu, sudah 40 kambing mati dimangsa macan ganas tersebut.
“Malam Senin kemarin saja kami temukan lima bangkai kambing berserakan dengan menyisakan bekas jejak seperti sayatan kuku. Semalam saja bisa lima kambing dimangsa,” ujarnya, kepada HR, Selasa (12/4).
Dihubungi terpisah, Camat Panjalu, Dadang Hidayat, dikonfirmasi HR, Selasa (12/4), membenarkan bahwa macam tutul yang berada di lokasi konservasi hutan lindung Gunung Syawal telah memangsa 40 ekor ternak milik warga.
“Bayangkan, hanya dalam dua minggu, 40 ekor kambing warga jadi korban macan tutul yang turun dari Gunung Syawal. Tadi pagi saja, Kepala Desa Kertamandala melapor bahwa warga sangat resah dengan kejadian tersebut,” katanya, ketika dihubungi HR via telepon selulernya, Selasa (12/4).
Dadang menambahkan, menurut laporan warga bahwa kejadian tersebut baru pertama kali terjadi di Desa Kertamandala. Sedianya, ungkap Dadang, pihak BKSDA Ciamis segera memasang perangkap untuk menjebak macan Tutul yang meresahkan warga tersebut.
“Memang kami sudah berkoordinasi dengan BKSDA, dan hari Senin kemarin jebakan sudah dipasang BKSDA. Namun jaring tersebut berhasil di robek, dan macan tutul pun kembali kabur,” terangnya.
Dari data yang dihimpun HR, kejadian macan tutul yang turun ke perkambungan warga pernah terjadi sekitar 3 tahun lalu. Saat itu macan tutul turun ke Dusun Cikarag Desa Sadananya Kec. Sadananya dengan memangsa 10 ekor kambing milik warga.
Menanggapi hal itu, Kepala Bidang Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Wilayah III Jabar di Ciamis, Drs. Rajendra Supardi, Selasa (12/04), mengatakan, pihaknya sudah mengupayakan penangkapan mancan tutul itu sejak Senin kemarin.
“Kami sudah upayakan penangkapan pada Senin kemarin, meski alat yang kami gunakan dirobek oleh macan tutul tersebut. Bekas darah dan robekannya masih terlihat dijaring,” katanya.
Rajindra menjelaskan, upaya yang akan dilakukan oleh pihaknya saat ini bersama warga sekitar adalah dengan mengusir macan tutul tersebut kembali ke habitatnya.
“Malam ini kita akan meronda bersama warga dengan membunyikan sirene. Karena suara sirene bisa membuat macan tutul takut, dan akan kami giring untuk kembali ke habitatnya,” ujarnya.
Menurut Rajindra, meskipun dari kejadian tersebut tidak ada seorang saksi matapun yang melihat, pihaknya berkesimpulan bahwa macan tutul dari Gunung sawal- lah sebagai biang kerok yang mengakibatkan 40 kambing milik warga mati.
“Macan tutul itu bisa turun gunung ke pemukiman warga karena habitatnya tumbuh. Artinya terjadi persaingan di dalam habitat macan tutul tersebut, yang menyebabkan macan tutul itu keluar dan turun ke perkampungan warga,” jelasnya.
Rajendra membantah bila kaburnya macan tutul dari kawasan konservasi karena ulah perburuan manusia. “Bukan karena terusik oleh perburuan. Karena warga belum ada melihat ada orang berburu macan tutul di kawasan ini, melainkan karena ketersedian pakan minim dan populasi yang meningkat, dan kemudian timbullah persaingan diantara mereka,” pungkasnya. (DK)