Ciamis, (harapanrakyat.com),- Ratusan petani Sukamantri melakukan pembasmian hama tikus di areal sawah seluas hampir 433 hektar yang terdapat di Desa Sukamantri, Cibeureum, Medanglayang, dan Mekarwangi Kec. Sukamantri.
“Kami lakukan pembasmian ini bukan karena ada serangan, tapi ini semata-mata untuk mengendalikan hama tikus. Hal itu bertujuan agar pada musim tanam nanti, areal pesawahan bebas dari hama pengganggu. Kegiatan ini kami namai pengendalian Pratanam,” ungkap Rojak, Ketua Brigade Proteksi Tanaman Unit IV Dinas Pertanian Jawa Barat, Senin (14/3).
Rojak mengatakan, dalam pengendalian tikus kali ini, pihaknya menggunakan teknik emposan, dimana para petani menutup lubang keluar tikus dan memberi asap pada lubang masuk tikus tersebut.
“Otomatis tikus-tikus tersebut akan mati dengan sendirinya. Selain itu ada juga yang keluar perangkap, namun langsung kami bunuh. Hasil kegiatan tersebut berhasil membasmi sekitar 30 ekor tikus,” katanya.
Sesekali pihaknya juga melakukannya dengan teknik Grobogyan. Tekni tersebut yaitu pembongkaran lubang tikus, kemudian tikus dibunuh, dan perbaikan pematang sawah serta pembuangan bangkai tikus.
Di samping dengan teknik emposan dan grobyogan, pihaknya bersama para petani juga mengaku melakukan pembersihan semak belukar di wilayah sekitar sawah mereka.
Pada kegiatan pengendalian tikus kali ini, Rojak dan sejumlah petani menggunakan pestisida khusus untuk pembasmi tikus, formula Rodentisida, tiran 58 SP serta belerang.
Rojak menambahkan, kegiatan tersebut bermula dari usulan Petani, pihak Kecamatan dan Badan Penyuluh Pertanian Perikanan dan Kehutanan (BP3K) Kec. Sukamantri.
“Mereka mengajukan kegiatan kepada kami, dan kami meresponnya langsung yang kemudian kita agendakan bersama. Tapi yang terpenting dalam kegiatan ini adalah dilakukannya secara serius dan berkesinambungan,” katanya.
Kepala BP3K Kec. Sukamantri, Itang, SP, membenarkan bahwa pihaknya bersama petani, didukung pemerintahan kecamatan Sukamantri dan Brigade Proteksi Tanaman melakukan pembasmian tikus pada pramusim kali ini.
Menurut Itang, kegiatan itu sengaja dilakukan demi sebuah usaha untuk meningkatkan produktifitas para petani. (DK)