Banjar, (harapanrakyat.com),- Kelompok ternak yang mendapat bantuan berupa induk sapi sekaligus kandang dari Pemerintah Kota Banjar pada tahun 2011 ini, mengaku akan sebaik mungkin memanfaatkan bantuan yang telah mereka terima.
Mereka menyadari bahwa kelompok yang diberi bantuan harus bisa berkembang, karena hasilnya nanti akan dinikmati oleh peternak itu sendiri.
Seperti dikatakan Komar, Sekretaris Kelompok Ternak Sapi Sukamulya, Dusun Pasir Leutik, Blok Sengon, Desa Mekarharja, Kec. Purwaharja.
Dia mengaku, kelompknya mendapat bantuan kandang dan induk sapi sebanyak 10 ekor. Dengan beranggotakan 10 orang, maka setiap anggota berkewajiban mengelola satu ekor induk sapi.
“Pembenihan induk sapi dengan sistim IB, sehingga dari 10 ekor induk itu harus bisa berkembang. Jadi, setiap 6 tahun harus bisa menambah 2 ekor sapi, atau dari seper sepuluh itu menjadi 12 ekor,” kata Komar, Senin (21/3).
Lebih lanjut dia mengatakan, bila induk sapi yang dikelola kelompok sudah bisa berproduksi atau menghasilkan anak, maka induk tersebut akan diberikan kepada kelompok lain atau masyarakat yang ingin mengelola ternak.
Dengan cara seperti itu kelompok akan terlihat ada kemajuan karena sudah bisa mengembangkan bantuan, yaitu dengan memberikan kesempatan kepada kelompok lain yang tidak menerima bantuan.
“Sebetulnya hal itu sudah menjadi kewajiban setiap kelompok penerima bantuan untuk bisa mengembangkan usahanya. Kami sangat berterima kasih pada pemerintah, karena kalau kita membeli sapi dan membuat kandang sendiri tidak sanggup. Alhamdulillah pemerintah memberi secara cuma-cuma, kelompok tidak harus mengembalikan atau menyetor apa-apa ke pemerintah,” tuturnya.
Di tempat terpisah, Kepala Dinas Pertanian Kota Banjar, Ir. Rachmawati, mengatakan, untuk bantuan sapi berikut kandang tersebar di wilayah Kec. Purwaharja dan Pataruman.
Menurutnya, bantuan yang diberikan kepada kelompok ternak itu diharapkan dari setiap induk bisa menghasilkan, atau beranak satu ekor.
“Usia kehamilan sapi itu lama seperti manusia, jadi induk sapi itu hanya bisa menghasilkan satu ekor anak selama satu tahun. Nanti hasilnya silahkan dikelola lagi oleh anggota lain yang belum kebagian,” jelasnya.
Karena, kata dia, ada kelompok yang hanya mendapatkan bantuan 10 ekor sapi, sedangkan anggotanya ada 15 orang. Untuk itu, bila kelompok memanfaatkan bantuan dengan sungguh-sungguh, maka kelompok tersebut akan maju dan berkembang, lantaran semua anggotanya dapat mengelola.
Rachmawati juga menghimbau kepada para peternak, jangan dulu terburu-buru ingin cepat mendapat keuntungan, apalagi sampai menjual induk. Kalau hal itu terjadi, maka kelompok atau peternak sendiri yang rugi, mereka tidak akan bisa maju dalam menjalankan usaha ternaknya.
“Kami tidak memungut, atau menyuruh peternak setor ke dinas dalam bentuk apapun. Mereka bisa berhasil, ya hasilnya juga untuk kelompok. Kami akan merasa bangga jika program bantuan yang digulirkan kepada masyarakat berhasil. Tapi sebaliknya, bila gagal, maka itu beban berat bagi kami,” tuturnya.
Dia mengaku, setiap program bantuan yang diluncurkan kepada masyarakat selalu dilengkapi dengan Pakta Integritas. Namun, meski ada beberapa yang dinilai gagal memanfaatkan bantuan, pihaknya memang belum pernah melaporkan kepada Inspektorat atau ke kepolisian.
Alasannya, karena selama ini penerima bantuan merupakan masyarakat tidak mampu, sehingga pihaknya harus bisa memaklumi ketika bantuan yang diberikan malah dijual oleh penerima bantuan untuk kebutuhan makan, dalam hal ini masyarakat.
“Untuk bantuan sekarang ini, kami sangat berharap, supaya hal itu jangan sampai terulang lagi. Manfaatkan dengan benar bantuan yang diberikan, agar daya beli penerima bantuan bisa meningkat. Karena, sebelum mendapat bantuan juga tetap bisa makan, jadi jangan menjual modal, sebab bantuan itu modal untuk usaha,”pungkasnya. (Eva)