Banjar, (harapanrakyat.com),- Sulitnya mengendalikan harga tahu akibat terjadinya persaingan usaha diantara para pengrajin, Dede (32), warga Dusun Karangpucung, Desa Balokang, Kec. Banjar, akhirnya mengubah produksinya dari tahu kotak menjadi tahu bulat.
Dia mengatakan, sejak tahun 2004, masyarakat Dusun Karangpucung banyak yang membuka usaha memproduksi tahu. Sehingga, daerah tersebut menjadi sentra produksi tahu di Kota Banjar.
“Kendala bagi saya adalah mengendalikan harga tahu di pasaran. Setiap pengrajin tidak bisa mematok harga, apalagi kalau bahan baku mahal. Sementara harga jual tidak mungkin dinaikkan, terpaksa dijual murah. Pengrajin tidak bisa diajak kompromi masalah harga,” tutur Dede, Selasa (1/2).
Lanjut dia, jika diantara pengrajin sudah saling menjatuhkan harga jual di pasaran, maka produsen tahu tidak akan bisa maju dalam usahanya.
Untuk mensiasati agar usahanya terus berjalan, Dede mencoba membuat tahu dengan bentuk yang berbeda seperti biasanya, yaitu tahu bulat. Dan ternyata hasilnya pun tidak mengecewakan.
“Produksi tahu bulat sudah berjalan selama delapan tahun. Dalam satu hari bahan baku yang dibutuhkan mencapai 1,5 kwintal kedelai. Keuntungan memproduksi tahu bulat yaitu, tidak akan basi jika tidak terjual habis dalam satu hari, berbeda dengan tahu kotak,” katanya.
Pembuatan tahu bulat, kata Dede, tidak jauh berbeda dengan tahu kotak, lantaran proses awalnya sama seperti membuat tahu biasa.
Sebelumnya, tahu kotak diblender dan diberi bumbu tambahan. Kemudian, setelah diblender dan dikasih bumbu, baru dicetak bulat menggunakan tangan lalu dimasukkan ke penggorengan.
Untuk mensiasati kenaikan harga bahan baku seperti kedelai dan minyak, Dede memperkecil ukuran tahu bulat.
omzet penjualan akan turun bila libur sekolah, pasalnya, pangsa pasar tahu bulat lebih digemari anak sekolah.
Sementara pangsa pasar keripik tahu masih terbatas. Diproduksi bila ada pesanan dengan jumlah besar. “Keripik tahu harganya memang cukup mahal, per-kilo mencapai 60 ribu rupiah,” pungkasnya. (AM)