Ciamis, (harapanrakyat.com),- Para petani cabai merah di Dusun Patrol Desa Cibeureum Kecamatan Sukamantri Kabupaten Ciamis mulai mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan terjadinya perubahan iklim. Persiapan itu dilakukan dengan mengikuti penyuluhan yang diberikan oleh Badan Penyuluh Pertanian Perkebunan Perikanan dan Kehutanan (BP3K) Kecamatan Sukamantri.
Hal itu disampaikan Itang, SPKP, Kepala BP3K Kec. Sukamantri, ketika ditemui HR, Senin (7/2) di ruang kerjanya. Itang mengatakan, penyuluhan tentang mengantisipasi kemungkinan terjadinya perubahan iklim dari penghujan terhadap kemarau sudah dilakukan pihaknya.
Penyuluhan itu sengaja dilakukan pihaknya, dengan tujuan agar para petani masih bisa menanam cabai meski musim kemarau akan datang. Hal itu beriringan dengan masih bertahannya harga cabai merah di pasaran.
Itang menjelaskan, pihaknya mengaku khawatir terhadap musim kemarau panjang bisa berimbas bagi para para petani cabai merah. Padahal, sementara ini yang dia tahu, harga cabai merah di pasaran masih cukup memberikan untung besar bagi petani.
Sementara ini, upaya-upaya yang dilakukan BP3K, menurut Itang, adalah memberikan sosialisasi tahapan menghadapi musim kemarau. Yakni dengan penerapan percepatan pola tanam dan persiapan sarana infrastruktur seperti pembuatan bak penampungan air, penyediaan selang dan lain-lain.
Untuk melakukan hal itu, pihaknya mengaku menggunakan dana dari pola swakarsa bantuan pemerintah dan bantuan kemitraan yang sudah terjalin antara BP3K, petani dan swasta.
Empak (57), petani cabe setempat, ketika dimintai tanggapan mengatakan, sudah mengikuti penyuluhan pengolahan tanah dalam rangka menghadapi perubahan iklim yang diberikan BP3K Kec. Sukamantri.
Dari penyluhan tersebut, dia mengetahui bagaimana agar bertanam cabe dapat bertahan sepanjang musim, dengan tidak mengurangi hasil panen meskipun musim kemarau melanda tanaman tersebut.
Kecipratan Rejeki Nomplok, Petani Cabai Mampu Beli Mobil Baru
Petani cabai di wilayah Kec. Sukamatri, Kab. Ciamis, akhir-akhir ini banyak yang mendapatkan keuntungan berlimpah. Karena, cuaca buruk yang terjadi beberapa waktu lalu membuat komoditas cabai sulit ditemui di pasaran.
Hal itu menyebabkan harga cabai melonjak tajam, bahkan harga cabai rawit sempat menembus angka hingga Rp. 100 ribu perkilonya.
Camat Sukamantri Drs. Adang Darajat, Msi., mengatakan, cuaca buruk yang terjadi di wilayah Indonesia membawa hikmah tersendiri bagi petani cabai, khususnya petani di wilayah Sukamantri.
“Disaat cuaca buruk terjadi di wilayah Indonesia, termasuk Ciamis ini, sebagian petani cabai Sukamantri banyak yang kecipratan rezeki nomplok, mereka banyak yang beli mobil baru,” kata Adang, beberapa waktu lalu pada HR.
Adang menilai, banyaknya petani yang membeli mobil baru tersebut menandakan bahwa komoditas cabai Sukamantri dipandang sebagai komoditas unggulan.
Terlepas adanya cuaca buruk dan kelangkaan cabai di pasaran, namun fenomena membeli mobil baru bagi sebagian petani ibarat mendapatkan durian runtuh. “Kami sangat senang menyaksikan kemajuan perekonomian warga kami,” katanya.
Ditemui di tempat terpisah, Selasa (8/2), Pipin, salah seorang petani cabai yang kini sudah mampu membeli satu unit mobil, mengatakan, bukan hanya mobil saja, namun petani cabai di Sukamantri ada pula yang bisa sampai membangun rumah.
“Akibat kenaikan harga cabai, baik cabai rawit maupun cabai merah keriting yang harganya mencapai kisaran 40 hingga 45 ribu rupiah perkilo, maka sebagian petani ada yang membangun rumah dan membeli motor baru,” tuturnya.
Menurut Pipin, kelangkaan cabai akibat cuaca buruk, termasuk meletusnya gunung Merapi di Yogyakarta beberapa waktu lalu, diakuinya telah mendorong para petani menyisihkan sebagian keuntungannya untuk digunakan belanja barang investasi berupa mobil, motor dan rumah.
Lebih lanjut dia menuturkan, bagi petani yang mempunyai lahan seratus bata saja, keuntungan dari hasil penjualannya mampu membeli satu unit sepeda motor, apalagi petani yang mempunyai lahan hektaran.
Namun, fenomena tersebut tidak dialami oleh semua petani cabai, lantaran sebagian petani lainnya masih bergelut dalam penanganan masalah hama dan lahan pertanian yang minim.
“Ada sekitar 10 persen dari 300 petani cabai Sukamantri yang kecipratan rezeki nomplok tersebut. Akan tetapi, bagi petani yang beruntung jangan lantas menjadi terlena. Namun, kita sebagai petani cabai harus terus melakukan perbaikan kwalitas, termasuk penanganan masalah hamanya,” pungkasnya. (DK)