Ada saja trik yang dilakukan pedagang di kawasan wisata kuliner Jl. BKR Kota Banjar untuk menarik pembeli, seperti halnya Nasi Goreng ala Siluman.
Para pedagang kreatif lapangan (PKL) yang berjualan di kawasan wisata kuliner mengaku, setiap malam dagangannya selalu ramai dikunjungi pembeli. Seperti dikatakan Mimin dan Yanti, pedagang nasi goreng di kawasan tersebut.
Dalam mempersiapkan dagangannya, setiap hari Mimin dan anaknya, Yanti, berangkat dari rumah sekitar jam 4 sore. Setelah selesai menata segala perlengkapan, jam 5 sore mereka sudah siap melayani pembeli.
Untuk lebih menarik dan mudah diingat oleh konsumen, tulisan yang terpampang di roda dagangannya diberi nama Nasi Goreng Siluman. Menurut Mimin, nama tersebut diambil sesuai nama kampungnya, yaitu Lingkungan Siluman, Kel/Kec. Purwaharja.
“Kata siluman di sini karena kami tinggal di wilayah Lingkungan Siluman. Jadi jangan takut. Ini trik untuk menarik pembeli saja,” canda Mimin, saat dijumpai HR, Minggu (23/1).
Sementara itu menurut Yanti, Nasi Goreng Siluman mempunyai ciri khas tersendiri. Nasi goreng yang disajikan, selain dilengkapi daging dan telur ayam, juga ditambah potongan ati ampela serta sosis, dan tentunya rasa beda dengan yang lain.
Rasanya pun tentu pas di lidah, karena Mimin dan Yanti ingin menyajikan nasi goreng yang sesuai dengan selera pembeli. Sehingga, para pengunjung akan merasa ketagihan untuk menikmati kembali nasi goreng ala Siluman.
Terbukti, semenjak jualan di kawasan wisata kuliner, mereka mengaku nasi gorengnya selalu laku. Satu porsi dijual seharga Rp8.000. Dari jualan jam 5 sore sampai jam 11 malam, mereka mampu menjual kurang lebih sekitar 30 porsi.
“Bahan untuk nasi goreng tidak menyediakan banyak, ya secukupnya. Alhamdulillah kalau nasi goreng selalu habis,” katanya.
Selain nasi goreng, mereka juga menyediakan menu makanan lainnya, seperti nasi tutug oncom, atau yang biasa disebut nasi TO. Kemudian, tersedia pula aneka minuman panas dan dingin, diantaranya jus buah-buahan dan berbagai macam kopi.
Namun mengenai penghasilan, mereka enggan menyebutkan berapa besaran nominalnya. Yang pasti, Mimin dan Yanti mengaku selalu mampu meraup keuntungan cukup lumayan setiap harinya.
“Pendapatan bisa lebih besar jika cuaca tidak hujan, karena pengunjung yang datang ke kawasan wisata kuliner akan lebih banyak,” kata mereka.
Mimin dan Yanti berharap kawasan wisata kuliner dapat berjalan selamanya. Mereka juga berharap, adanya pembinaan terhadap para pedagang, baik dari pihak pemerintah maupun pengelola.
Lantaran, selain kreatif dari para pedagang itu sendiri dalam menyajikan menu dagangannya, pembinaan kepada pedagang juga harus dilakukan.