News, (harapanrakyat.com),- Memasuki usia satu windu (8 tahun), Pemerintah Kota Banjar telah mampu mendeklarasikan sebagai daerah otonom yang cukup maju di berbagai aspek, baik segi infrastruktur, kesehatan, pendidikan dan daya beli masyarakat.
Hal itu sesuai dengan tujuan awal dibentuknya Pemkot Banjar, yaitu untuk meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang lebih baik.
Namun, dari semua keberhasilan tersebut tentu tidak terlepas dari permasalahan yang ada, dan harus menjadi pemikiran bersama. Seperti dikatakan Sekteris Kecamatan Pataruman, Asno Sutarno, SP, MP.
“Kita dapat merasakan sarana prasarana cukup baik pada saat ini. Keseriusan pemerintah pada sektor kesehatan, pendidikan, fasilitasi maupun stimulant untuk menggerakan ekonomi riil, semua diprogramkan dari tingkat desa dan kelurahan cukup dirasakan,” katanya Kamis (20/1).
Lebih lanjut dia mengatakan, selama ini pemerintah telah memberikan bantuan kepada masyarakat untuk meningkatkan perekonomiannya, terutama masyarakat yang kurang mampu. Tapi, masyarakat jangan menjadi terlena oleh bantuan-bantuan yang diberikan pemerintah.
Permasalahan tersebut tentu dari karakter masyarakat yang pasif, akibatnya saat ini ada hal-hal yang mulai meluntur di masyarakat, contohnya, keswadayaan atau gotong-royong. Padahal, pada waktu lalu hal tersebut menjadi budaya warga Banjar, namun kini masyarakat mulai berubah ke individualistis dan senantiasa bertumpu pada pemerintah.
“Karena kalau kita berbicara ekonomi, tentu adanya permintaan dan produsen, ada investasi dan terciptanya lapangan kerja. Selama ini di sektor daya beli masyarakat Banjar masih kesulitan untuk bisa meningkat lebih, walaupun sudah berbagai bantuan dan stimulant disalurkan ke masyarakat,” terangnya.
Selain itu Asno juga mengatakan, sisi lain elemen masyarakat Banjar dan birokrat Pemkot Banjar, yakni telah mendeklarasikan dengan Pakta Intergritasnya untuk memerangi bentuk-bentuk pelanggaran dan korupsi.
Itu semua sudah menjadi tanda-tanda bahwa Banjar berkeinginan mempunyai daya tarik tersendiri bagi investor dari luar supaya mereka mau berinvestasi di Kota Banjar. Sehingga, perekonomian masyarakat dapat terdongkrak.
Salah satu cara untuk menarik investor dari luar, maka pihak pemerintah harus lebih jeli menggali potensi yang memungkinkan menjadi daya tariknya Kota Banjar ke depan.
Untuk itu, dengan sewindu usia Kota Banjar ini, bagaimana caranya agar orang merasa kerasan tinggal di Banjar dan menjadikan Banjar sebagai hunian yang tepat bagi pendatang.
“Kalau berbicara daya tarik atau hunian supaya orang senang tinggal di Banjar, selain dukungan infrastruktur, tentu tidak terlepas juga dari faktor-faktor lingkungan hidup yang ada, di mana secara keseluruhan merupakan suatu ekosistem yang saling berkaitan,” katanya.
Pada akhir tahun 2010, Kota Banjar sudah membuat daya tarik yang lebih dari sebelumnya, yaitu dengan selesaianya pembangunan Water Park. Kemudian, melakukan penataan kawasan Rest Area Parungsari pada lahan Perhutani, dan diciptakannya kawasan wisata kuliner di Jl. BKR.
Selain itu, pemanfaatan dan penataan lahan di Doboku untuk rest area dan kuliner, meski semuanya belum bisa optimal, lantaran masih ada hal-hal yang perlu menjadi perhatian pemerintah maupun masyarakat.
“Kita sadar pada saat ini tentu masih banyak yang belum optimal, dan sebagian masyarakat ada yang belum mengerti apa sih artinya Banjar setelah otonom. Itu merupakan hal yang wajar. Dengan demikian perlu adanya perubahan metoda sosialisasi yang lebih jelas dari berbagai program dan kegiatan pada masyarakat,” tuturnya.
Sementara di tempat terpisah, Kabid. Bina Marga Dinas PU Kota Banjar, H. Pepen Sumargi, S.Sos,. menjelaskan, bahwa jalan di Kota Banjar yang kondisinya masih kerikil dan batu panjangnya mencapai 21,80 km.
Untuk meningkatkan kondisi jalan-jalan desa di hotmik, maka lebar jalan minimal harus mencapai 4 meter sampai 4,5 meter. Sedangkan, keadaan jalan yang masih kerikil dan batu lebarnya hanya 3 meter.
“Kalau jalan yang panjangnya 21,80 km tersebut ingin dihotmik, kita terkendala oleh masyarakat, karena mereka tidak mau memberikan lahannya untuk kebutuhan pelebaran jalan bila pemerintah tidak memberikan ganti rugi,” kata Pepen.
Tapi, lanjut dia, ada juga masyarakat yang mau memberikan lahannya bagi kebutuhan pelebaran jalan, seperti di wilayah Bojongkantong.
Dikatakan Pepen, panjang jalan yang sudah dihotmik di Kota Banjar sampai tahun 2010 mencapai 95,5 km, jalan aspal 84,7 km, serta jalan beton 4,57 km. Sementara bagi jalan yang rusak akibat anomali cuaca akan dilakukan perbaikan pada tahun 2011.
Sedangkan, untuk bidang pengairan di Kota Banjar yang sudah terealisasikan dalam tahun 2010 diantaranya, irigasi teknis 86 %, irigasi desa 50 %, saluran pembuangan 50 %, dan peningkatan tersier 0 %.
Hal itu dikatakan Kabid. Pengairan Dinas PU Kota Banjar, H. Endang Pandi, S.Sos. Dia berharap, dalam tahun 2011 ini akan ada peningkatan-peningkatan pekerjaan bidang pengairan di Kota Banjar. (Eva/adi/bh)