Keberadaan Mesjid dalam peradaban Islam mempunyai peranan yang begitu besar. Sepanjang sejarahnya, mesjid dan pendidikan Islam adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Karena, mesjid dan pendidikan menjadi satu kesatuan.
Mesjid menjadi simbol bagi agama Islam, dan juga memiliki sejarah yang tidak dapat dilupakan. Sehingga mesjid tetap berada kokoh di tengah-tengah kemajuan modernisasi perkotaan, bahakan mesjid juga terkadang dibangun untuk menjadi ciri khas tersendiri ataupun menjadi ciri khas suatu daerah atau kota tempat mesjid tersebut berada.
Seperti halnya Mesjid Agung Ciamis, mesjid tersebut berada di tengah-tengah kota Ciamis, dan berdampingan dengan pusat kantor Pemerintahan Kabupaten Ciamis. Selain itu, mesjid tersebut juga berhadapan langsung dengan taman Alun-alun. Dengan demikian, sejumlah ulama menamakan mesjid tersebut Mesjid Agung, karena letaknya berada di pusat keramaian kota.
Sekretaris Dewan Keluarga Mesjid (DKM) mesjid Agung Ciamis, Ustadz Kurnia, ketika ditemui HR, Senin (22/08), menuturkan, mesjid tersebut merupakan mesjid terbesar di Kabupaten Ciamis, dan sejak berdiri tahun 1882, sudah menjadi pusat kegiatan ke-Islaman.
Peresmiannya dilakukan oleh Bupati Ciamis R Aria Kusumadiningrat. Hingga sekarang bangunan mesjid telah beberapa kali direnovasi, pertama tahun 1964, selanjutnya tahun 1997, dan terakhir pada tahun 2005.
Lanjur Kurnia, luas bangunan mesjid Agung Ciamis mencapai 3.500 meter persegi, sedangkan luas keseluruhannya, berikut halaman, taman mesjid, dan tempat area parkir, hampir mencapai 16.000 meter persegi.
“Ciri khas dari Mesjid Agung Ciamis adalah pada bagian Selatan dan Utara terdapat kolam air yang digunakan untuk mengambil air wudhu para jemaah. Selain itu, di mesjid tersebut juga terdapat bangunan perpustakaan bawah tanah. Jadi, sambil menunggu waktu sholat tiba, selain melaksanakan tadarus Al Qur’an, bisa juga mampir ke perpustakaan mesjid untuk membaca buku agama dan ilmu pengetauan umum lainnya,” tuturnya.
Untuk kegiatan yang dilaksanakan DKM cukup banyak. Selain pelaksanaan rutin kuliah shubuh, shalawat, belajar Al-Qur’an, bahkan setiap satu minggu satu kali diadakan pengajian umum dan kader PKK.
Namun, khusus di bulan Rahmadhan ada program Itikaf, yang diadakan Ikatan Da’i Indonesia (IKADI), bekerjasama dengan DKM Mesjid Agung Ciamis. Program ini dimaksudkan untuk membangun karakter umat, meningkatkan kualitas rohani, menghidupkan sunnah Itikaf, mendidik dan membina akidah dan akhlah, terutama para pelajar.
Agenda kegiatan yang dilaksanakan dalam program DKM yaitu, renungan malam, (sholat dan doa bersama), kuliah Shubuh, kuliah Dzuha, kuliah selekas Dzuhur, bimbingan Tahsin dan Tahfidz Al-Qur’an, serta kajian sore.
Mesjid Agung Ciamis juga biasanya menjadi tempat persinggahan masyarakat yang akan melakukan perjalanan ke daerah Cilacap, Banyumas, Tasik, Garut, dan Bandung. Mereka berhenti sejenak untuk salat, beristirahat dan makan.
Ketika Ramadan seperti sekarang, banyak sekali orang yang menghabiskan waktu disini. Ada yang ikut mengaji, shalat, bersedekah, dan meluangkan waktu mampir ke perpustakaan. Seperti Halnya Eka, warga Majenang.
Dia mengaku sengaja beristirahat di Mesjid Agung Ciamis, setelah menempuh perjalanan dari Tasikmalaya. Menurutnya, karena suasana di mesjid tersebut sejuk, apalagi di bagian depan mesjid terdapat Alun-alun ciri khas dari Kabupaten Ciamis.
“Menjelang magrib, mesjid ini ramai oleh remaja, anak-anak, maupun orang tua yang ngabuburit dan melaksanakan tadarusan menjelang buka puasa tiba,” kata Eka.